Web Toolbar by Wibiya

Rabu, 22 Februari 2012

Kegilaan


Definisi
Gila adalah perilaku seseorang dalam melakukan perbuatan yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia normal pada umumnya. Atau perilaku yang tidak wajar berdasarkan norma-norma masyarakat setempat yang menganggap orang tersebut gila. Beberapa definisi gila dari beberapa sumber adalah sebagai berikut :
  • Melakukan sesuatu di luar kewajaran, di luar apa yang menjadi kebiasaan, norma, atau aturan  orang kebanyakan. Gila yang dimaksudkan tersebut adalah berbedanya cara berpikir atau berperilaku seseorang dari manusia pada umumnya yang membedakan orang gila dengan orang waras.
  • Melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan kebenaran universal. Kebenaran universal itu absolut. kebenaran yang entah bagaimana semua manusia yakini benar dan baik adanya, tanpa memandang ras, agama, pandangan politik dan parameter pembeda antar manusia lainnya. Contoh : Sehat. Sehat itu baik. Tidak perduli orang jepang atau rusia, amerika atau indonesia, agama islam, nasrani atau bahkan atheis sekalipun,  semua manusia manusia menginginkan sehat. Tapi ternyata ada orang yang menginginkan dirinya sakit. Dan itulah “Gila” dalam pandangan saya. Maka dari itu, semua tindakan yang mengarah pada menyakiti diri dan merusak kesehatan seperti memakan makanan tinggi kalori dengan jumlah yang tidak ideal, merusak paru–paru dengan dalih kenikmatan tak tertahankan, menghilangkan kesadaran dengan alasan ‘tekanan’, saya kategorikan sebagai tindakan gila. 
  • Pengertian gila menurut Rasulullah Muhammad SAW adalah orang yang berjalan dengan sombong, yang memandang orang dengan pandangan yang merendahkan, yang membusungkan dada, berharap akan ada Surga Tuhan sambil berbuat maksiat kepada-Nya, yang kejelekannya membuat orang tidak aman dan kebaikannya tidak pernah diharapkan.
Jenis Kegilaan
Ketika kita bebicara mengenai kondisi mental masyarakat kita, maka kita akan tertuju pada tingkah laku masyarakat yang banyak tergambar dalam norma yang berlaku di masyarakat. Dalam lingkungan masyarakat kita khususnya dan  masyarakat Indonesia  pada umumnya, banyak kita menjumpai orang berperilaku menyimpang dari norma-norma tersebut. Untuk memahami masalah gangguan kejiwaan pada manusia, maka perlu di pahami definisi kesehatan jiwa. Kesehatan jiwa  adalah perasaan sehat dan bahagia serta mampu mengatasi tantangan hidup, dapat menerima orang lain sebagaimana adanya serta mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain. 

Definisi kesehatan jiwa tersebut terlalu ideal sehingga jika definisi tersebut dijadikan patokan, maka banyak dari kita yang masuk dalam kondisi tidak  sehat secara kejiwaan. Bukankah jika kita memiliki sifat iri hati maka kita sudah masuk dalam kondisi tidak sehat. 

Banyak gangguan kejiwaan yang muncul pada kehidupan manusia diawali oleh rendahnya kecerdasan emosi karena tidak mampu mengendalikan dorongan emosionalnya, membebani jiwa dengan pikiran, perasaan dan perbuatan yang terus menerus mengganggu kesehatan jiwa dan raga. Walaupun demikian ada beberapa gangguan kejiwaan karena faktor organis. 

Gangguan jiwa juga  dapat diartikan sebagai adanya kondisi atau situasi kejiwaan yang negatif, menyebabkan perilaku, pikiran, dan perasaannya tidak sesuai dengan lingkungannya. Kalau  kita telusuri bahwa orang yang  mengalami gangguan jiwa   tersebut dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis orang gila. Menurut  bidang kedokteran dalam hal ini seorang ahli kejiwaan,  klasifikasi gangguan jiwa (PPDGJ) sebagai berikut :
  • Gangguan psikomatik (contoh: schizophrenia)
  • Gangguan cemas (contoh:panic attack, phobia)
  • Gangguan mood (contoh:bipolar mood, depression)
  • Gangguan amnestic (contoh: amnesia)
  • Gangguan dissosiatif (contoh: multiple personality)
  • Gangguan somatisasi (contoh : hipokondria, pain, conversion)
  • Gangguan tidur (contoh: insomnia, mimpi buruk)
  • Gangguan makan (contoh: obesitas, anorexia, nervosa, bulimia)
  • Gangguan seksual (contoh : premature ejaculation, dysparenia, vaginismus)
  • Gangguan impuls (contoh : cleptomania, pyromania)
  • Gangguan kepribadian (contoh: eksploitative, paranoia)
  • Gangguan ketergantungan zat (contoh : alcohol addict, heroin addict)
  • Gangguan factitious (contoh: munchausen), dan
  • Gangguan penyesuaian diri (contoh: adjustment disorder)
Hal ini diperkuat dengan pendapat Staf IQEQ, yang mengatakan bahwa semua manusia pernah mengalami suatu kejadian yang begitu membekas dalam seluruh kepribadiannya menjadi tidak normal/abnormal. Abnormalitas adalah suatu perilaku yang bertentangan dengan suatu keadaan yang normal. Adapun orang itu dikatakan abnormal (mengalami gangguan jiwa) jika mengalami hal-hal di bawah ini :
  • Persepsi yang tidak efisien terhadap kenyataan, artinya seseorang  memandang   sesuatu dengan membesar-besarkan atau mengecilkan sesuatu
  • Tidak mampu mengendalikan perilakunya atas kehendaknya sendiri
  • Tidak memiliki harga diri dan tidak diterima oleh lingkungannya, dan
  • Depresi yang begitu kuat sehingga orang tersebut tidak mampu mengatasi stres, seperti perilaku antisocial atau personality disorders sehingga dapat mengganggu mental mereka.
Paparan  di atas menunjukan  bahwa   orang yang dikatakan mengalami gangguan jiwa itu hanya orang yang tidak waras saja tetapi orang yang masuk kategori orang yang mengalami gangguan jiwa sudah dijelaskan lebih jauh dan luas. Dari hal itu ada yang lebih penting bahwa jangan-jangan kita  mengatakan orang lain itu gila tetapi diri kita termasuk dari salah satu dari klasifikasi orang yang mengalami gangguan jiwa.
Sebab-sebab Pemicu Kegilaan
Ada berbagai macam penyebab seseorang mengalami gangguan kejiwaan atau pada umumnya disebut gila. Namun, gila bagi sebagian orang dapat diartikan sebagai perilaku yang menyimpang dari pola hidup masyarakat pada umumnya. Manusia pada era globalisasi ini kurang banyak mengistirahatkan kerja otak dan pikirannya karena terus dipacu tanpa henti untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Terutama yang menyangkut masalah kelangsungan hidupnya menghadapi berbagai tantangan yang ada. Sehingga membuat hidupnya terus tertekan dengan keadaan dan masalah yang membebani pikirannya. Beberapa penyebab tersebut adalah :
  1. Tekanan mental atau stress. Suatu keadaan di mana seseorang merasa dirinya terpojok dengan penuh tuntutan atas berbagai macam masalah hidup yang sedang dihadapinya. Itu ditandai dengan sekelompok gejala disosiasi dan kecemasan yang terjadi dalam satu bulan dari stressor traumatic.
  2. Depresi atau terlalu banyak pikiran. Suatu keadaan di mana seseorang merasa muncul dalam dirinya perasaan mendalam dan terus-menerus bersedih atau keputusasaan dan  kehilangan minat pada hal-hal yang menyenangkan. Sehingga membuat beban mental pada pikiran karena masalah yang terus menumpuk dan berkepanjangan.
  3. Dikucilkan atau dianggap aneh. Suatu keadaan di mana seseorang merasa dirinya dikucilkan atau diasingkan oleh pergaulan masyarakat pada umumnya karena mengalami keadaan yang dianggap menyimpang dari norma-norma di masyarakat. Selain itu, orang yang dianggap aneh bisa juga disebabkan oleh kepribadian yang tidak wajar. Hal ini antara lain seperti Asperger Disorder, Gangguan masa kanak-kanak dikenal sebagai gangguan perkembangan meresap atau gangguan autistic spectrum, Avoidant, satu dari beberapa kepribadian disorderslisted atau perilaku seseorang yang tidak dapat diterima oleh orang lain dan mendapat penolakan dari masyarakat sekitarnya, Bipolar, nama yang diberikan kepada sekelompok orang bergangguan mental yang ditandai oleh fluktuasi ekstrem dalam suasana hati. Orang-orang didiagnosis dengan pengalaman gangguan suasana hati yang terdalam mulai dari depresi hingga ke mania bipolar, periode suasana hati yang kurang nyaman, atau bahkan stabilitas emosional yang tidak menentu, Borderline, gangguan kepribadian yang ditandai dengan hubungan antarpersonal terganggu dan tidak stabil. Bahkan sering berperilaku merusak diri sendiri
  4. Faktor genetic atau keturunan : suatu penyebab di mana penyakit yang sedang diderita adalah penyakit turunan dari silsilah keluarga yang dulu pernah mengalami penyakit yang sama.
  5. Rasa Takut Terhadap ruang Terbuka atau Aghoraphobia : gangguan kecemasan yang ditandai dengan ketakutan yang kuat terkait dengan keberadaanya dalam situasi yang tidak kondusif. mungkin sulit atau memalukan di mana bantuan tidak mungkin tersedia dalam peristiwa panik dan tubuh membutuhkan pertolongan segera. Ketakutan seperti ini akan membuat seseorang merasa terkucilkan dan tidak bisa beradaptasi dengan dunia luar. Sehingga menganggap dirinya bukan bagian dari lingkungan sekitarnya.
Penanganan terhadap Kegilaan
Untuk menangani  orang yang mengalami gangguan kejiwaan atau sering disebut dengan ‘gila’ atau orang yang mempunya keleabihan atau tingkah yang aneh yang bisa dikatakan ‘gila’ maka perlu tahapan-tahapan sebagai berikut;
  • Pelajari Penyebab mengapa orang tersebut gila. Tahapan ini berupa identifikasi penyebab orang tersebut dikatakan gila. Setelah kita mengetahui yang mendasari orang tersubut dikatakan gila. selanjutnya kita tentukan orang tersebut termasuk katagori gila yang bagaimana. Bila Gilanya orang tersebut berkaitan dengan akal yang kurang sehat yang dapat mebahayakan keselamatan orang lain maka pelu dikarantinakan ke tempat khusus sambil dilakukan pengobatan dan pembinaan. Tapi bila gilanya orang tersebut karena mempunyai kelebihan yang tidak wajar atau kelebihan di atas rata-rata orang normal, maka perlu dilakukan pembinaan dan bimbingan guna mengembangkan bakat atau kelebihan orang tersebut sehingga menghasilkan sesuatu yang positif untuk dirinya dan lingkungannya.
  • Gunakan pendekatan yang humanis dan persuasif. Semua manusia mempunyai hak hidup dan pelayanan yang sama termasuk orang gila. Untuk itu jangan sampai menggunakan cara kekerasan dalam berkomunikasi atau bertindak terhadap orang tersebut. Tetapi ajak komunikasi mereka dengan hati nurani dan tetap menghargai mereka dengan keterbatasan maupun kelebihan yang mereka alami.
  • Lakukan Pengobatan. Ikhtiar manusia dalam mengatasi penyakit yang dideritanya atau yang diderita orang lain wajib dilakukan termasuk termasuk penyembuhan penyakit pada orang gila. Dalam pengobatan kegilaan ini, dilakukan dengan dua cara yaitu dengan cara medis menggunakan ilmu kedokteran seperti pada umumnya  serta cara religius atau tradisional.  
  • Berilah pencerahan hati pada mereka. Berilah mereka pemahaman dan keyakinan bahwa penyakit mereka bisa sembuh. Besarkanlah hatinya dan berikan dukungan dan pendampingan yang nyata dan kontinu. Pencerahan hati lebih baik dilakukan dengan pendekatan religius dan doa serta didukung dengan pembentukan suasana lingkungan yang mampu membuat si pasien merasa nyaman.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar